Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Edu

Keracunan Makanan Massal: Ribuan Siswa MBG Jadi Korban!

badge-check


					Keracunan Makanan Massal: Ribuan Siswa MBG Jadi Korban! Perbesar

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang jadi jurus ampuh pemerintah, kini malah bikin geger. Bayangin aja, cuma dalam delapan bulan terakhir, Institut for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat setidaknya 4.000 siswa menjadi korban keracunan dari program ini. Angka yang bikin miris ini langsung memicu desakan dari Indef agar pemerintah segera menghentikan sementara program beranggaran fantastis, mencapai Rp 335 triliun dalam RAPBN 2026, demi evaluasi total.

Izzudin, salah satu peneliti Indef, dengan tegas menyatakan bahwa korban keracunan ini bukan sekadar statistik belaka. “Ini menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan program,” ujarnya dalam diskusi daring bertajuk “Menakar RAPBN 2026: Arah Kebijakan UMKM, Koperasi dan Ekonomi Digital” pada Kamis, 4 September 2025. Jadi, ini bukan masalah sepele, melainkan PR besar yang harus segera diselesaikan sebelum korban bertambah.

Dengan alokasi anggaran yang mencapai Rp 335 triliun, atau sekitar 10 persen dari total belanja negara Rp 3.700 triliun dalam Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (RAPBN) 2026, wajar kalau publik mempertanyakan efektivitas program ini. Izzudin menambahkan, selama delapan bulan berjalan, masalah yang muncul bukan cuma keracunan massal, tapi juga distribusi makanan yang karut-marut. Jadi, bukan cuma menu yang dipertanyakan, tapi juga bagaimana makanan itu sampai di tangan siswa.

Untuk menghindari jebolnya anggaran dan kegagalan implementasi yang lebih parah, Izzudin menyarankan agar program MBG ini jangan langsung digeber skala nasional. Skema bertahap di sejumlah daerah dinilai jauh lebih realistis dan memudahkan proses monitoring serta evaluasi. “Kalau dipaksakan berskala nasional tanpa uji coba, kapasitas fiskal akan tertekan hanya untuk satu program. Lebih baik kita belajar dari praktik di negara lain seperti Brasil yang lebih murah dan efektif,” jelasnya, sembari menunjuk contoh sukses dari luar negeri.

Selain masalah keracunan, ekonom Senior Indef, Aviliani, punya kritik lain. Menurutnya, program MBG ini gagal memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena syaratnya terlalu berat. “Kalau MBG bisa berdampak pada UMKM, itu akan meningkatkan pendapatan mereka. Tapi syarat harus punya dapur dan tenaga pengolah membuat UMKM sulit ikut serta,” keluhnya. Padahal, program sebesar ini harusnya bisa jadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan, bukan malah mematikan.

Bukan isapan jempol belaka, kasus keracunan MBG teranyar baru saja terjadi di Kabupaten Lebong, Bengkulu, pada Rabu, 27 Agustus 2025. Sedikitnya 150 siswa dari tingkat PAUD hingga Sekolah Dasar harus dilarikan ke RSUD Kabupaten Lebong setelah mengonsumsi makanan dari program ini. “Para siswa ini dirawat di ruangan UGD dan telah mendapatkan penanganan dari dokter spesialis anak,” kata Plt Direktur RSUD Lebong, Eni Efriyani, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 28 Agustus 2025. Sungguh miris melihat anak-anak kecil menjadi korban.

Eni menjelaskan bahwa ratusan anak itu mulai berdatangan ke rumah sakit sejak Rabu pagi hingga siang hari. Meski begitu, pihak rumah sakit belum bisa memastikan apa penyebab pasti para siswa mengalami keracunan MBG. Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebong, Fachrurozi, mengaku langsung terjun ke lapangan bersama Polsek Lebong untuk memantau kasus ini. “Untuk mengantisipasi membludaknya pasien, pihak Polres Lebong juga sudah menyiapkan aula jika ruangan RSUD Lebong tidak mencukupi,” ujarnya, menggambarkan betapa gentingnya situasi saat itu.

Di tengah riuhnya kritik dan kasus keracunan yang terus bermunculan, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan justru punya pandangan berbeda. Ia sempat menyebut bahwa sejumlah kasus keracunan makan siang gratis disebabkan oleh para siswa yang punya riwayat alergi atau belum terbiasa menyantap bahan makanan tertentu. “Berarti bukan salah masak, kan? Kita memang belum terbiasa,” katanya saat mengunjungi dapur makan bergizi gratis di Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis, 21 Agustus 2025. Pernyataan ini tentu saja memicu beragam reaksi, di tengah tuntutan evaluasi total yang didesak Indef.

Dinda Shabrina dan Winahyu Utami berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Penyebab Pasokan Bensin di SPBU Swasta Seret

Ringkasan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan setelah Institut for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat sekitar 4.000 siswa menjadi korban keracunan dalam delapan bulan terakhir. Indef mendesak pemerintah untuk menghentikan sementara program dengan anggaran Rp 335 triliun dalam RAPBN 2026 guna dilakukan evaluasi menyeluruh karena perencanaan dan pengawasan yang dinilai lemah.

Selain kasus keracunan, masalah lain seperti distribusi makanan yang tidak merata dan ketidakberdayaan UMKM akibat persyaratan yang berat juga menjadi perhatian. Kasus keracunan terbaru terjadi di Kabupaten Lebong, Bengkulu, menimpa 150 siswa PAUD hingga SD. Kritik juga datang dari ekonom Indef, Aviliani, yang menilai program ini gagal memberdayakan UMKM.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan

27 April 2026 - 19:45 WIB

Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya

21 April 2026 - 14:31 WIB

Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai

20 April 2026 - 10:54 WIB

JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan

10 April 2026 - 14:06 WIB

Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia

9 April 2026 - 19:49 WIB

Trending di Edu