Menu

Mode Gelap
JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Asah Kreativitas Lewat Teknik Mewarnai Batik Persaingan Makin Ketat, SD Swasta Sidoarjo Siapkan Strategi Penerimaan Murid Baru Tebar Kurma dan Imsakiyah, Yayasan Bina Insan Muslim Gaungkan Syiar Ramadan

Liputan

Impor BBM Wajib Pertamina: ESDM Bilang Semua Sesuai Aturan!

badge-check


					Impor BBM Wajib Pertamina: ESDM Bilang Semua Sesuai Aturan! Perbesar

Geger SPBU swasta kosong melompong? Nah, akhirnya terjawab kenapa! Kementerian ESDM tegas banget nih, bilang kalau urusan impor BBM itu cuma lewat satu pintu, yaitu Pertamina. Ini bukan tanpa alasan, guys. Soalnya, beberapa SPBU swasta udah kelewat batas jatah kuota impor yang ditetapkan pemerintah.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, jelasin kalau kebijakan importasi satu pintu ini bukan ngarang, tapi emang udah sesuai sama regulasi yang berlaku. Khususnya, ada di Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM.

“Posisi kita udah clear. Dirjen Migas sudah kasih aba-aba kalau impor BBM itu kudu lewat Pertamina,” ujar Dadan pas ditemuin di Kompleks Parlemen, Senin, 15 September 2025. Jadi, no debat, ya!

Terus, menurut Perpres 191/2014 Pasal 12 ayat (2), yang bisa lakuin impor jenis BBM tertentu itu cuma badan usaha yang udah dapat rekomendasi dari Menteri ESDM dan izin dari Menteri Perdagangan. Dadan nambahin, “Kalau berdasarkan regulasi, semua yang punya izin usaha emang bisa kok dapat rekomendasi impor. Udah aturannya begitu.” Nah, berarti bukan cuma Pertamina doang dong, harusnya?

Meski begitu, Dadan bilang Kementerian ESDM kini lagi sibuk ngecek data dari pengelola SPBU swasta. Data apa? Ya, data seberapa banyak BBM yang mereka butuhin dan speknya kayak gimana. Dadan belum bisa nyebutin total kebutuhan karena data yang masuk masih perlu diverifikasi. “Sebagian besar sudah diterima, tapi kita tunggu finalisasi semuanya sebelum disampaikan ke Pertamina,” jelasnya.

Nah, sebelum ini, Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman udah bocorin kalau skema suplai satu pintu via Pertamina ini emang dibikin buat nanggulangi drama kelangkaan BBM yang terjadi di beberapa SPBU swasta sejak akhir Agustus lalu. Usut punya usut, kelangkaan ini kayaknya karena ada perubahan aturan importasi dari setahun sekali jadi cuma enam bulan, plus dievaluasi tiap tiga bulan. Agak ribet, ya?

Gara-gara aturan baru ini, perusahaan swasta, termasuk SPBU milik asing, jadi makin PR banget buat ngurus izin impor. Mereka harus update izin lebih sering, punya izin usaha niaga atau pengolahan, plus lapor rutin ke Ditjen Migas. Wajar kalau jadi keteteran jaga pasokan, kan?

Laode juga tegas bilang, kalau stok Pertamina aman jaya, pasokan buat SPBU swasta bakal langsung dipenuhi dari cadangan Pertamina. Tapi kalau enggak cukup, ya tetep aja impornya lewat Pertamina sebagai gerbang utamanya. “Mau impor sekalipun, tetep ya lewat Pertamina. Satu pintu!” ujarnya, ngegas.

Padahal nih, pemerintah sebenarnya udah baik hati nambahin kuota impor untuk SPBU swasta sebesar 10 persen tahun ini. Eh, tapi apa daya, kata Laode, kuota segitu juga udah ludes karena tingginya permintaan BBM di SPBU swasta emang lagi tinggi-tingginya.

Menurut hitung-hitungan Kementerian ESDM, tingginya serapan BBM di SPBU swasta itu gara-gara banyak banget yang beralih dari Pertalite ke BBM nonsubsidi tahun ini. Gak main-main, jumlah perpindahannya tembus 1,4 juta kiloliter, lho! Wow!

Tapi, jangan senang dulu. Laode bilang, Kementerian ESDM belum bisa mastiin apakah mekanisme satu pintu ini bakal berlanjut sampai 2026. “Fokus kita sekarang beresin kondisi 2025 dulu, ya,” katanya. Jadi, masih abu-abu, guys.

Sementara itu, Presiden Direktur BP AKR Vanda Laura, bilang perusahaannya masih ngitung-ngitung dan pelajarin opsi impor via Pertamina ini. Kata Vanda, ada banyak yang perlu dibahas, terutama soal spesifikasi BBM. Maklum, tiap perusahaan kan punya standar aditif yang beda-beda, jadi nggak bisa asal comot.

“Nanti kita serahin spesifikasi BBM yang BP AKR jual buat dipelajari Pertamina, terus kita omongin lagi secara detail,” kata Vanda setelah meeting bareng Ditjen Migas di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu, 10 September 2025. Semoga cepet ketemu jalan tengahnya, ya!

Pilihan Editor: Pendiri Neutura, Laksamana Sakti: Limbah Menjadi Produk Bernilai Tambah

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan