
Ahad, 31 Agustus 2025 lalu, jagat maya sempat dihebohkan dengan agenda tak terduga: Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kumpul bareng sejumlah pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai aplikator di Istana. Ditemani delapan perwakilan dari Gojek, Grab, Maxim, hingga InDrive, Gibran membuka dialog yang sebenarnya punya tujuan mulia. Namun, siapa sangka, pertemuan ini justru memicu gelombang tanda tanya dan bikin publik auto ngeh ada yang janggal.

Menurut Rio, salah satu pengemudi ojol yang hadir, obrolan utama mereka adalah soal kelanjutan kasus Affan Kurniawan. Buat yang lupa, Affan ini driver ojol yang tewas terlindas mobil Brimob saat demonstrasi pada 28 Agustus 2025. “Kami menekankan ke Wakil Presiden agar kasus Affan ini diproses transparan, nggak pake ditutup-tutupi,” kata Rio saat dihubungi Ahad, 31 Agustus 2025. Selain itu, ada juga aspirasi lain, mulai dari usulan BPJS Ketenagakerjaan gratis buat para driver hingga harapan agar situasi tetap kondusif di tengah riuhnya gelombang demo. Tapi, kenapa sih pertemuan penting ini malah jadi bahan omongan?
Mengapa jadi Persoalan?
Drama dimulai dari video yang diunggah akun resmi @setwapres.ri. Netizen jeli melihat ada yang beda dari para pengemudi yang datang. Jaket mereka tampak baru, rapi jali, lengkap dengan sepatu-sepatu bermerek. Duh, nggak banget kan sama vibe pengemudi ojol yang sehari-hari berjibaku di jalanan? Ditambah lagi, pemilihan diksi yang terlalu formal dan baku, jauh banget dari obrolan warung kopi atau basecamp ojol. Malah ada istilah “taruna” yang bikin dahi mengernyit, “hapeu itu taruna?”
Salah satu driver Gojek dalam pertemuan itu sempat curhat, “Beberapa hari ini kami teman-teman ojek online terganggu dalam mata pencarian. Jumlah penumpang menurun, rasa waswas dalam narik, karena mengingat eskalasi makin meningkat.” Nah, yang bikin publik makin geleng-geleng adalah kelanjutan pernyataannya: “Kami juga sudah memberikan edukasi kepada para taruna di wilayah masing-masing untuk tidak ikut serta atau terpancing isu-isu provokatif mengenai isu-isu unjuk rasa atau demo yang kemarin.” Kata “taruna” ini memang kedengaran asing banget di telinga pengemudi ojol biasa. Alhasil, media sosial pun riuh rendah, mempertanyakan: ini beneran perwakilan driver lapangan, atau cuma “figur pilihan” buat agenda Istana?
Keraguan publik nggak berhenti di situ. Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) ikut angkat bicara. Ketua SPAI, Lily Pujiati, memastikan bahwa driver ojek online yang nongkrong bareng Wakil Presiden Gibran itu bukan anggota serikatnya. “Dari sekian banyak yang pakai jaket aplikasi, saya cuma kenal dua yang jaket Maxim. Mereka pun bukan anggota serikat kami,” ujar Lily kepada Tempo pada Selasa, 2 September 2025. Lily menjelaskan, kalau anggota serikat itu ada kartu, ada struktur, dan setiap langkah harus lewat koordinasi serikat, bukan jalan sendiri-sendiri.
Lily juga menyoroti kebiasaan pemerintah yang lebih suka ngajak “driver binaan aplikator” ketimbang perwakilan serikat independen. Menurutnya, hal ini bisa bikin aspirasi yang disampaikan lebih condong ke kepentingan perusahaan, bukan murni suara para pekerja di jalanan. Jadi, apakah dialog ojol dan Gibran ini benar-benar mewakili suara driver ojol sesungguhnya?
Setelah kontroversi ini ramai jadi omongan, beberapa aplikator pun langsung pasang badan buat klarifikasi. Platform Maxim Indonesia misalnya, buru-buru memastikan bahwa dua pengemudi berjaket Maxim yang hadir di Istana itu benar-benar terdaftar dan aktif melayani. “Mitra pengemudi yang hadir adalah pengemudi resmi kami yang aktif,” jelas Public Relations Specialist Maxim Indonesia, Arkam Suprapto, melalui keterangan resmi pada Selasa, 2 September 2025.
Arkam menambahkan, pertemuan pada 31 Agustus 2025 itu adalah agenda resmi atas arahan Kantor Wakil Presiden, yang melibatkan perwakilan mitra ojol dari semua aplikasi. Tujuannya murni untuk dialog langsung dan menyerap masukan pribadi para pengemudi. “Kehadiran mereka sebagai tamu undangan itu inisiatif mitra pengemudi sendiri dalam kapasitasnya sebagai perwakilan,” ujarnya. Maxim juga bilang mereka rutin edukasi driver agar jaga ketertiban dan hindari aksi ricuh, karena dialog konstruktif itu jauh lebih baik. Ya, biar nggak ada lagi misinterpretasi, katanya.
Nggak mau ketinggalan, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) juga ikut bersuara. Direktur Public Affairs & Communications GOTO, Ade Mulya, membenarkan bahwa pengemudi berjaket Gojek yang bertemu Gibran adalah mitra aktif mereka sejak 2015. “Mohamad Rahman Tohir atau akrab disapa Cang Rahman, salah satu peserta dialog yang jadi perbincangan itu, benar mitra aktif Gojek sejak 2015,” tegas Ade dalam keterangan resminya yang diterima Tempo pada Selasa, 2 September 2025.
Ade menjelaskan, Kantor Wakil Presiden memang menghubungi Gojek dan aplikator lain untuk menghadirkan perwakilan mitra ojol. Gojek mengapresiasi undangan resmi ini karena dianggap sebagai kesempatan emas bagi pemerintah untuk mendengar langsung aspirasi driver. Kata Ade, para pengemudi menyampaikan banyak hal, mulai dari dukungan untuk keluarga rekan yang berpulang, solidaritas sesama driver, hingga harapan agar situasi tetap aman dan damai. “Bagi kami, setiap ruang dialog dengan pemerintah adalah kesempatan berharga. Kami percaya suara tulus para mitra adalah fondasi terkuat untuk mencari solusi bersama demi masa depan yang lebih baik,” tutup Ade, seolah ingin meredakan suasana.
Ringkasan
Pertemuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan perwakilan ojek online (ojol) dari berbagai aplikator di Istana menimbulkan kontroversi. Agenda dialog ini bertujuan untuk membahas kelanjutan kasus Affan Kurniawan, pengemudi ojol yang tewas saat demonstrasi, serta aspirasi terkait BPJS Ketenagakerjaan dan situasi kondusif di tengah aksi demonstrasi. Namun, publik mempertanyakan keaslian perwakilan ojol yang hadir karena penampilan mereka yang berbeda dari pengemudi ojol pada umumnya dan penggunaan diksi formal.
Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) juga menyatakan bahwa perwakilan ojol yang bertemu Gibran bukan anggota serikat mereka, sehingga menimbulkan keraguan apakah aspirasi yang disampaikan benar-benar mewakili suara para pengemudi. Beberapa aplikator seperti Maxim dan Gojek memberikan klarifikasi bahwa pengemudi yang hadir adalah mitra aktif mereka, dan pertemuan ini merupakan inisiatif Kantor Wakil Presiden untuk menyerap masukan langsung dari para pengemudi.








