Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Liputan

Filipina Bergejolak: Ribuan Turun ke Jalan, Protes Korupsi Banjir!

badge-check


					Filipina Bergejolak: Ribuan Turun ke Jalan, Protes Korupsi Banjir! Perbesar

Warga Filipina lagi panas! Ribuan orang tumpah ruah di jalanan ibu kota Manila pada Minggu, 21 September 2025. Bukan buat konser, tapi buat ngungkapin rasa jengkel mereka sama skandal korupsi gila-gilaan yang makin hari makin gede. Gimana enggak kesel? Ada dugaan proyek-proyek pengendalian banjir fiktif yang bikin duit pembayar pajak amblas miliaran dolar gitu aja.

Sebenarnya, kemarahan soal ‘proyek hantu’ ini udah memanas banget di negara Asia Tenggara ini sejak Juli lalu. Waktu itu, Presiden Ferdinand Marcos Jr. sendiri yang ngungkit masalah ini di pidato kenegaraannya, setelah beres dilanda banjir parah yang makan korban jiwa berminggu-minggu.

Meskipun begitu, Marcos sendiri bilang kalau dia enggak nyalahin sama sekali warganya yang demo. Katanya, wajar kalau mereka protes. Tapi, pesannya cuma satu: demonya harus tetep damai ya. Eh, tapi tentara udah disiagain “siaga merah” lho, jaga-jaga aja gitu.

Salah satu suara yang lantang terdengar datang dari Aly Villahermosa, mahasiswa keperawatan 23 tahun asal Metro Manila. Dia curhat, “Ada kalanya saya sendiri harus ngarungin banjir!” Bayangin, proyek banjir fiktif kok duitnya ada, tapi buat sektor kesehatan malah amblas. “Kalau ada anggaran buat proyek-proyek hantu, kenapa enggak ada anggaran buat sektor kesehatan?” gerutunya, sambil bilang kalau duit rakyat dicuri gini itu sungguh memalukan. Sekitar 13.000 orang berkumpul di Taman Luneta pagi itu, ikutan menyuarakan kekesalan mereka, seperti dilansir CNA.

Enggak cuma mahasiswa, tokoh senior juga ikutan! Ada Teddy Casino, 56 tahun, ketua aliansi sayap kiri Bagong Alyansang Makabayan. Dia dan kelompoknya enggak cuma minta duit yang dikorupsi itu dibalikin, tapi juga minta para pelakunya dipenjara. “Korupsi itu emang bikin orang wajib turun ke jalan dan nunjukkin amarah mereka, biar pemerintah bener-bener jalanin tugasnya,” tegas Casino.

Katanya sih, bakal ada massa yang lebih gede lagi ngumpul buat berbaris di jalanan legendaris EDSA. Buat yang belum tahu, EDSA ini saksi bisu Gerakan Kekuatan Rakyat tahun 1986 yang berhasil ngegulingin ayah diktator Marcos dari singgasana. Wah, bakal jadi momen epik lagi nih?

Gara-gara skandal proyek pengendalian banjir ini, udah ada guncangan di kursi kepemimpinan Kongres. Bahkan, Ketua DPR Martin Romualdez – yang notabene sepupu Marcos Jr. sendiri – udah mengajukan pengunduran diri awal minggu ini. Pastinya, penyelidikan masih terus berjalan, dan kita tunggu aja siapa lagi yang kena imbasnya.

Enggak kaleng-kaleng, awal bulan ini para bos perusahaan konstruksi malah nuduh hampir 30 anggota DPR plus pejabat dari Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya (DPWH) ikutan terima suap. Gila, kan? Angkanya gede banget!

Kira-kira berapa sih kerugiannya? Departemen Keuangan Filipina ngitung, gara-gara korupsi proyek pengendalian banjir ini, ekonomi negara rugi sampai 118,5 miliar peso dari 2023 sampai 2025. Tapi, versi Greenpeace lebih bikin melongo lagi, mereka perkirakan angkanya bisa nyentuh US$18 miliar! Edan!

Sayangnya, Filipina ini udah punya “sejarah panjang” soal skandal duit rakyat. Ironisnya, para politisi kelas kakap yang terbukti korupsi seringkali malah bisa lolos dari hukuman penjara berat. Jadi, jangan heran kalau rakyatnya gampang banget naik pitam.

Saat tim menyambangi Bulacan, sebuah provinsi di utara Manila yang jadi langganan banjir dan tempat proyek-proyek palsu itu diidentifikasi, pemandangan miris terlihat jelas. Penduduk di sana masih harus berjibaku jalan di air keruh pakai sepatu bot karet. Elizabeth Abanilla, nenek 81 tahun yang udah pensiun, bilang kalau baik politisi maupun kontraktor, sama-sama salah besar. “Mereka seharusnya enggak nyerahin duit sebelum pekerjaannya beres,” tegasnya. “Keduanya sama-sama salah,” tambahnya.

Pilihan Editor: Ketua DPR Filipina Mundur, Diduga Terlibat Korupsi Proyek Pengendalian Banjir

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan