Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Entertainment

Merasa Gagal di Akhir 2025? Ini Pesan Menenangkan dari Guru Besar Psikologi UI

badge-check


					Merasa Gagal di Akhir 2025? Ini Pesan Menenangkan dari Guru Besar Psikologi UI Perbesar

KLIKMOJOK.COM Menjelang berakhirnya tahun 2025, banyak orang mulai menengok kembali resolusi yang pernah mereka tetapkan di awal tahun. Sayangnya, tidak sedikit resolusi tersebut yang belum atau bahkan tidak berhasil diwujudkan. Kondisi ini kerap memunculkan perasaan terpukul, sedih, hingga tak berdaya.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, mengatakan bahwa perasaan sedih akibat kegagalan mencapai resolusi adalah hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar perasaan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut dan berubah menjadi beban mental.

“Kalau resolusi tidak tercapai, sebaiknya evaluasi dulu, kira-kira apa penyebabnya. Apakah dari internal diri seperti daya juang rendah dan terlalu sering malas-malasan, atau dari faktor eksternal misalnya lingkungan dan semesta yang tidak mendukung,” kata Prof Rose saat dihubungi, Rabu (31/12/2025).

Menurut Prof Rose, evaluasi menjadi langkah penting sebelum seseorang menilai dirinya gagal. Dengan evaluasi yang jujur dan menyeluruh, seseorang bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dan menentukan strategi perbaikan ke depan.

Ia menekankan, evaluasi juga berfungsi untuk mencegah munculnya rasa bersalah berlebihan atau self-guilt yang justru bisa memperburuk kondisi psikologis. “Karena kita butuh pikiran yang jernih. Jadi sebelum punya perasaan self-guilt dan sebagainya, ya harus evaluasi dulu,” ujarnya.

Selain itu, Prof Rose mengingatkan agar tidak membandingkan pencapaian diri dengan pencapaian orang lain. Menurutnya, kebiasaan membandingkan sering kali membuat seseorang merasa iri dan rendah diri, tanpa memahami proses panjang yang dijalani orang lain.

“Saya ambil contoh, orang kadang-kadang iri lihat artis kok bisa enak, punya uang banyak. Padahal kenyataannya artis itu mungkin sampai tidak bisa tidur, bahkan tidur di mobil, untuk bisa sukses. Sementara kamu bisa tidur kapan saja, santai. Itu tidak seimbang kalau dibandingkan begitu,” tutur Prof Rose.

Ia menilai, membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menambah beban mental dan menjauhkan seseorang dari tujuan awalnya. Setiap individu, kata dia, memiliki proses, tantangan, dan faktor pendukung yang berbeda-beda sehingga tidak bisa disamakan.

“Ketika kita merasa bersalah, saya begini-begini, tanpa mengevaluasi, aduh itu sih bukan cara orang yang ingin sukses. Cara berpikir seperti itu juga tidak sehat secara mental,” kata Prof Rose.

Di akhir tahun, Prof Rose menyarankan agar masyarakat lebih bersikap realistis dan penuh empati pada diri sendiri. Alih-alih menyesali resolusi yang belum tercapai, ia mendorong agar kegagalan dijadikan bahan belajar untuk menyusun langkah yang lebih matang di tahun berikutnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Libur Nataru 2026, Ini 5 Rekomendasi Film Seru untuk Marathon Bareng Keluarga

26 Desember 2025 - 14:40 WIB

Dosen Bahas Sistem Parkir Digital di Perkuliahan, Mahasiswa Soroti Tantangannya

9 Desember 2025 - 21:31 WIB

Ne Zha 2: Pecahkan Rekor! Review Film Animasi Terlaris

31 Agustus 2025 - 08:17 WIB

Trending di Entertainment