KLIKMOJOK.COM – Menjelang berakhirnya tahun 2025, banyak orang mulai menengok kembali resolusi yang pernah mereka tetapkan di awal tahun. Sayangnya, tidak sedikit resolusi tersebut yang belum atau bahkan tidak berhasil diwujudkan. Kondisi ini kerap memunculkan perasaan terpukul, sedih, hingga tak berdaya.
Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, mengatakan bahwa perasaan sedih akibat kegagalan mencapai resolusi adalah hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar perasaan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut dan berubah menjadi beban mental.

“Kalau resolusi tidak tercapai, sebaiknya evaluasi dulu, kira-kira apa penyebabnya. Apakah dari internal diri seperti daya juang rendah dan terlalu sering malas-malasan, atau dari faktor eksternal misalnya lingkungan dan semesta yang tidak mendukung,” kata Prof Rose saat dihubungi, Rabu (31/12/2025).
Menurut Prof Rose, evaluasi menjadi langkah penting sebelum seseorang menilai dirinya gagal. Dengan evaluasi yang jujur dan menyeluruh, seseorang bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dan menentukan strategi perbaikan ke depan.
Ia menekankan, evaluasi juga berfungsi untuk mencegah munculnya rasa bersalah berlebihan atau self-guilt yang justru bisa memperburuk kondisi psikologis. “Karena kita butuh pikiran yang jernih. Jadi sebelum punya perasaan self-guilt dan sebagainya, ya harus evaluasi dulu,” ujarnya.
Selain itu, Prof Rose mengingatkan agar tidak membandingkan pencapaian diri dengan pencapaian orang lain. Menurutnya, kebiasaan membandingkan sering kali membuat seseorang merasa iri dan rendah diri, tanpa memahami proses panjang yang dijalani orang lain.
“Saya ambil contoh, orang kadang-kadang iri lihat artis kok bisa enak, punya uang banyak. Padahal kenyataannya artis itu mungkin sampai tidak bisa tidur, bahkan tidur di mobil, untuk bisa sukses. Sementara kamu bisa tidur kapan saja, santai. Itu tidak seimbang kalau dibandingkan begitu,” tutur Prof Rose.
Ia menilai, membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menambah beban mental dan menjauhkan seseorang dari tujuan awalnya. Setiap individu, kata dia, memiliki proses, tantangan, dan faktor pendukung yang berbeda-beda sehingga tidak bisa disamakan.
“Ketika kita merasa bersalah, saya begini-begini, tanpa mengevaluasi, aduh itu sih bukan cara orang yang ingin sukses. Cara berpikir seperti itu juga tidak sehat secara mental,” kata Prof Rose.
Di akhir tahun, Prof Rose menyarankan agar masyarakat lebih bersikap realistis dan penuh empati pada diri sendiri. Alih-alih menyesali resolusi yang belum tercapai, ia mendorong agar kegagalan dijadikan bahan belajar untuk menyusun langkah yang lebih matang di tahun berikutnya.













