SURABAYA – Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Moch Edris Effendi ST, M.PSDM, turut hadir dalam agenda Refleksi Pendidikan 2025 yang digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (10/12/2025). Kehadiran Edris menjadi sorotan karena ia mendapat kesempatan khusus untuk menyampaikan best practice pengembangan sekolah Islam terpadu di Jawa Timur.
Acara yang mengusung tema “Pendidikan di Jawa Timur Terus Bertumbuh Menuju Generasi Unggul dan Berdaya Saing” itu menjadi ajang evaluasi besar jelang akhir tahun. Forum ini dihadiri para pemangku kebijakan, akademisi, dan pimpinan organisasi pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan pentingnya momentum refleksi bersama.
“Ini momen penting untuk mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki, sekaligus merumuskan langkah strategis ke depan,” ujarnya.
Soroti Tantangan Pendidikan Jawa Timur
Aries menyampaikan sejumlah capaian dan tantangan. Meski APK SMA/SMK telah mencapai 103%, namun APM masih berada di angka 79%. Selain itu, terdapat beberapa persoalan yang perlu segera diatasi, seperti:
- Rendahnya angka partisipasi sekolah
- Kondisi ruang kelas yang memprihatinkan
- Kompetensi GTK yang belum optimal
- Tingginya angka putus sekolah
- Keterserapan lulusan SMK yang masih rendah
- Masih adanya siswa dengan kasus kurang gizi
- Kesenjangan digitalisasi pendidikan
Pendidikan Harus Menguatkan Sinergi Sekolah dan Keluarga
Dalam forum tersebut, Edris duduk berdampingan dengan Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof. Dr. Warsono, MS dan Rektor UINSA Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad. Dip., SEA. Ia hadir dengan memakai batik lengkap dengan jas JSIT.
Mewakili 437 sekolah anggota JSIT Indonesia di Jawa Timur, Edris menyampaikan apresiasi kepada Dindik Jatim atas ruang kolaborasi yang diberikan.
“Kami berterima kasih karena JSIT diberi kesempatan untuk membagikan praktik baik yang selama ini kami jalankan,” ungkapnya.
Edris juga menawarkan sejumlah solusi dalam menghadapi persoalan pendidikan di Jawa Timur. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak akan maksimal bila tidak melibatkan orang tua di rumah.
Ia menyampaikan empat poin utama:
- Penguatan karakter sebagai fondasi pendidikan
- Budaya belajar yang konsisten di sekolah dan di rumah
- Peningkatan peran orang tua dalam mendampingi anak
- Menumbuhkan motivasi belajar bagi siswa, terutama setelah lulus sekolah
“Sebagus apa pun pembelajaran di sekolah, jika tidak ada dukungan moral dan budaya belajar di rumah, maka hasilnya tidak akan optimal,” tegasnya.
Kolaborasi untuk Menyongsong 2026
Forum refleksi ini menjadi ruang pertemuan strategis antara pemangku kebijakan dan pelaksana pendidikan di lapangan. Masukan dari berbagai organisasi, termasuk JSIT Jatim, diharapkan bisa memperkuat arah kebijakan pendidikan di tahun 2026.













