Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Liputan

Dari Pantura untuk Indonesia: Kisah Pesantren Sunan Drajat yang Sukses Bangun Ekonomi Umat

badge-check


					Dari Pantura untuk Indonesia: Kisah Pesantren Sunan Drajat yang Sukses Bangun Ekonomi Umat Perbesar

Lamongan — Di balik hamparan pesisir utara Jawa Timur, berdiri sebuah pesantren yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan agama, tapi juga sebagai laboratorium kemandirian ekonomi umat: Pondok Pesantren Sunan Drajat (PPSD). Didirikan oleh KH. Abdul Ghofur pada 7 September 1977, pesantren ini lahir dari semangat dakwah dan etos kerja khas leluhur Wali Songo — bahwa ibadah tidak hanya tentang dzikir, tetapi juga bekerja dan memberi manfaat bagi sesama.

Bila kebanyakan pesantren tumbuh dengan fokus pada pendidikan keagamaan, Sunan Drajat memilih jalan yang lebih luas: memberdayakan. Di sini, santri tak hanya menghafal kitab, tapi juga belajar memproduksi, berdagang, dan mengelola usaha. Dari unit agribisnis hingga media penyiaran, dari konveksi hingga pabrik air mineral, semua berputar di bawah satu nilai: “Wenehono — Berilah.”

Falsafah itu menjadi napas kehidupan di pesantren ini. KH. Abdul Ghofur kerap menegaskan, “Thoriqoh saya adalah thoriqoh pendidikan.” Artinya, setiap aktivitas — baik belajar, bekerja, maupun berdagang — adalah bagian dari ibadah dan pendidikan. Maka tak heran, para santri di PPSD didorong untuk tidak sekadar mengaji, tetapi juga mengasah kemandirian finansial, keahlian, serta jiwa sosialnya.

Kini, PPSD menaungi lebih dari 7.000 santri dengan berbagai lembaga pendidikan dan unit usaha. Tak hanya menghidupi pesantren secara mandiri, ekosistem ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Dari mereka yang bekerja di pabrik, toko buku, hingga stasiun televisi milik pesantren — seluruhnya tumbuh dalam atmosfer religius yang menanamkan etos kerja dan nilai-nilai Islam yang kuat.

Laboratorium Wirausaha yang Melahirkan Santri Mandiri

Pondok Pesantren Sunan Drajat bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan ruang eksperimen wirausaha berbasis nilai Islam. Setiap santri yang telah menamatkan pendidikan dasar diberi kesempatan untuk bekerja di unit-unit usaha pesantren. Mereka belajar manajemen, pelayanan, hingga kejujuran dalam transaksi.

Tidak semua santri dipaksa bekerja — justru mereka diajak menemukan potensi diri. Ada yang menjadi penyiar di Persada TV, ada yang berlatih menjahit di unit konveksi, hingga ada yang mengelola toko dan usaha kuliner. Prosesnya pun tak hanya melatih skill, tetapi juga karakter. Para santri dibiasakan bekerja dengan etika: tak boleh menipu, tak boleh berjudi, dan tak boleh mengambil keuntungan berlebih.

Pesantren memadukan pendidikan spiritual dengan ekonomi secara seimbang. Santri diajarkan bahwa sukses bukan hanya soal untung, tapi juga soal keberkahan. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial melekat dalam setiap langkah mereka.

Ekosistem Ekonomi yang Memberdayakan Masyarakat

PPSD memiliki banyak unit usaha — mulai dari pertanian, perdagangan, konveksi, hingga media penyiaran. Semua unit dikelola dalam satu jejaring yang saling menopang. Pendapatan dari usaha ini tak hanya digunakan untuk operasional pesantren, tapi juga untuk membantu santri karyawan (santri yang belajar sambil bekerja) agar bisa mengaji tanpa biaya.

Bahkan, masyarakat sekitar turut merasakan manfaatnya. Banyak warga yang menitipkan produk untuk dijual di toko-toko milik pesantren, atau bekerja di unit-unit yang dikelola santri. Ketika digelar Haul Akbar Sunan Drajat, masyarakat diberi ruang membuka stan usaha di area pesantren seluas 13 hektar — momentum tahunan yang menumbuhkan semangat ekonomi rakyat.

Melalui model pemberdayaan ini, PPSD tak hanya membentuk santri yang berilmu dan beriman, tetapi juga wirausahawan sosial yang tangguh dan mandiri.

Jejak Panjang Menuju Kemandirian Uma

Dari semangat pendirinya hingga ribuan alumninya kini, Pondok Pesantren Sunan Drajat menjadi bukti nyata bahwa pesantren bisa menjadi motor pembangunan ekonomi umat tanpa kehilangan jati diri spiritualnya.

Pemberdayaan di PPSD melahirkan output ganda: santri yang religius sekaligus produktif, dan masyarakat yang semakin sejahtera. Bagi pesantren ini, bekerja adalah ibadah, berdagang adalah dakwah, dan mandiri adalah bentuk tertinggi dari syukur.

Seperti pesan Sunan Drajat yang terus dihidupkan hingga kini: “Wenehono tulung marang wong kang luwe, wenehono sandhang marang wong kang wudo, lan wenehono poma marang wong kang lali.” (Berilah makan orang yang lapar, pakaian bagi yang telanjang, dan peringatan bagi yang lupa.)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan