Woy, cekidot! Wall Street lagi-lagi bikin heboh nih. Tiga indeks utamanya, yaitu Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite, kompak nangkring di puncak rekor penutupan tertinggi dua hari berturut-turut pada Jumat (19/9) lalu. Gila, kan? Kenaikan gila-gilaan ini didorong sama laporan laba FedEx yang bikin senyum, plus performa saham teknologi yang melesat abis. Gak cuma itu, volume perdagangan juga pecah rekor tertinggi sejak April!
Biar makin jelas, nih angka-angkanya (data dari Reuters): Dow Jones Industrial Average naik 172,85 poin atau 0,37 persen ke angka 46.315,27. S&P 500 ikutan melesat 32,40 poin (0,49 persen) ke 6.664,36. Sedangkan si jagoan Nasdaq Composite, performanya makin mantap dengan lonjakan 160,75 poin atau 0,72 persen, nyentuh level 22.631,48. Angka-angka yang bikin investor senyum lebar!

Nah, kalo kita intip performa sepanjang minggu, S&P 500 naik 1,2 persen, Nasdaq makin perkasa dengan 2,2 persen, dan Dow juga tambah 1,05 persen. Kenaikan ini bukan tanpa alasan, guys. Ini semua berkat keputusan The Federal Reserve (Bank Sentral AS) yang berani memangkas suku bunga untuk pertama kalinya tahun ini di hari Rabu. Plus, mereka kasih sinyal bakal ada pelonggaran kebijakan moneter lagi ke depannya. Asiiik!
Balik lagi ke volume perdagangan saham AS hari Jumat kemarin, angkanya mencapai 27,78 miliar lembar saham. Edan, kan? Ini jauh banget di atas rata-rata harian 20 hari terakhir yang cuma 17,41 miliar lembar. Terakhir kali pasar seramai ini itu pas April, waktu itu gara-gara pengumuman tarif Presiden AS Donald Trump yang bikin pasar gonjang-ganjing.
Salah satu pahlawan di balik lonjakan ini tentu saja si raksasa logistik, FedEx! Saham perusahaan jasa pengiriman ini melesat 2,3 persen gara-gara laporan laba dan pendapatannya sukses melampaui ekspektasi para analis. Ternyata, efisiensi biaya dan performa pengiriman domestik mereka yang kuat bisa nutupin penurunan di pasar internasional. Salut!
Gak mau kalah, Apple juga ikutan panen cuan dengan kenaikan signifikan 3,2 persen, apalagi setelah target harganya dinaikin sama JP Morgan. Gak cuma itu, saham Palantir Technologies dan Oracle juga kompak nambah tenaga buat sektor teknologi S&P 500 yang akhirnya naik 1,19 persen. Pokoknya, dari 11 sektor di S&P, tujuh di antaranya sukses ditutup menguat. Sayangnya, sektor energi malah jadi beban utama nih.
Meski begitu, awal-awal sesi perdagangan pasar saham sempat naik-turun kayak roller coaster. Maklum, para investor lagi pada pusing tujuh keliling mencerna arah kebijakan The Fed dan dengerin omongan Stephen Miran, gubernur baru sekaligus penasihat ekonomi Gedung Putih. Pasti pada mikir, “Ini mau ke mana ya?”
Kata Scott Ladner, Kepala Investasi Horizon Investments, “Yang jelas, kalau tujuan The Fed itu ngelonggarin target inflasi, itu sudah pasti resep ampuh buat pasar jadi kuat banget. Dan ini kabar baik buat saham!” Mantap!
Tapi eh tapi, gak semuanya happy ending. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 malah turun 0,71 persen, padahal sempat nyentuh rekor intraday. Padahal, sehari sebelumnya, indeks ini baru aja bikin rekor penutupan pertama sejak November 2021. Duh, sayang banget ya!
Ladner juga nambahin, “Saham-saham berkapitalisasi kecil itu pergerakannya kebalikan sama suku bunga. Jadi, kalau suku bunga lebih rendah, saham-saham kecil ini bakal diuntungkan banget, bahkan lebih dari yang lain.” Paham kan?
Beralih ke kabar politik, Presiden Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping ternyata sempat ngobrol di telepon. Trump bilang, mereka berdua udah bikin kemajuan soal kesepakatan terkait TikTok dan berencana mau ketemuan langsung secepatnya bulan depan di Korea Selatan. Wah, kira-kira ada apa lagi nih?
Eh, di hari yang sama, ada kabar kurang enak juga dari Senat AS. Mereka memblokir rancangan undang-undang pendanaan jangka pendek. Otomatis, ini bikin risiko terjadinya penutupan pemerintah (government shutdown) makin tinggi. Semoga cepat selesai ya!








