
Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), baru-baru ini gercep banget. Dia audiensi bareng Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) pada Jumat, 12 September 2025. Agenda utamanya? Merespons tujuh Desakan Darurat Ekonomi yang lagi jadi sorotan.

“Kita sih pengen denger langsung dari mereka, terus sekalian kasih tahu apa aja yang udah pemerintah lakuin. Penting banget buat mastiin kalau pemerintah itu aware sama semua masalah yang lagi dihadapi,” kata Luhut, seperti dikutip dari rilis pers di Jakarta pada Sabtu, 13 September 2025.
Dalam diskusi produktif itu, Luhut juga nge-spill kalau pemerintah ngeliat para ekonom sebagai mitra strategis buat bikin kebijakan makin tokcer. Jadi, deregulasi itu digeber buat nyiptain lapangan kerja dan dorong pertumbuhan ekonomi. Jangan lupakan juga akselerasi digitalisasi lewat sistem Online Single Submission (OSS) yang jadi kunci.
Ada juga langkah konkret, lho! Beberapa perusahaan garmen dan alas kaki rencananya bakal direlokasi. Ini lagi proses negosiasi tarif sama Amerika Serikat, tapi potensi buat nyiptain lebih dari 100 ribu lapangan kerja baru itu gede banget.
Nggak cuma itu, DEN juga ngasih penekanan buat ningkatin kualitas belanja dan penerimaan negara via digitalisasi. Salah satu pilot project yang siap digas adalah digitalisasi penyaluran bantuan sosial alias bansos.
Kata Luhut, jurus ini bukan cuma bikin transparan, tapi juga lebih efisien. Soalnya, bantuan bakal lebih tepat sasaran dan langsung bisa dirasain sama masyarakat.
Ketua DEN itu juga menggarisbawahi kalau kolaborasi apik antara pemerintah, para ekonom, dan akademisi itu jadi kunci utama buat ngebangun fondasi ekonomi nasional yang tangguh dan berkeadilan. “Masukan dari bapak dan ibu itu sangat kami butuhkan, biar tahu nih, apa kita di pemerintah udah on the right track atau belum. Saya butuh banget feedback dari semua buat jadi bahan diskusi kita di pemerintahan,” tegasnya.
Sementara itu, Perwakilan AEI, Jahen F. Rezki, nggak ketinggalan ngasih apresiasi ke DEN karena udah ngasih kesempatan para ekonom buat ngungkapin pandangan mereka langsung. “Diskusi ini super produktif dan kami harap desakan yang udah kami susun bisa jadi pertimbangan pemerintah buat bikin kebijakan ke depan. Semoga diskusi kayak gini bisa rutin diadain,” kata Jahen.
BTW, buat informasi aja nih, AEI udah nyampain tujuh Desakan Darurat Ekonomi ini pada Selasa, 9 September 2025. Ini dia rinciannya:
Pertama, minta banget perbaikan total soal misalokasi anggaran. Pastikan anggaran itu dipake buat kebijakan dan program yang wajar serta proporsional.
Kedua, balikin lagi independensi dan transparansi institusi penyelenggara negara. Jangan sampai ada intervensi dari pihak-pihak dengan kepentingan tertentu.
Ketiga, stop dominasi negara yang malah bikin aktivitas perekonomian lokal loyo.
Keempat, gaspol deregulasi kebijakan, perizinan, lisensi, plus sederhanain birokrasi yang selama ini jadi penghambat iklim usaha dan investasi yang kondusif.
Kelima, prioritaskan kebijakan buat ngatasin ketimpangan dalam segala aspek.
Keenam, balikin lagi kebijakan yang berbasis bukti dan proses teknokratis dalam pengambilan keputusan. Berantas juga program populis yang bisa ganggu stabilitas dan prudensi fiskal.
Ketujuh, naikin kualitas institusi, bangun kepercayaan publik, dan sehatin tata kelola penyelenggara negara serta demokrasi.
Pilihan Editor: Coretax Diterapkan. Bisakah Menambah Penerimaan Negara Rp 1.500 Triliun








