Kadin: ESG Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Udah Jadi “Survival Kit” Buat Perusahaan!
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kasih lampu hijau, nih! Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) itu udah bukan lagi sekadar tempelan biar keren, tapi udah jadi kebutuhan mendesak buat perusahaan zaman sekarang. Ibaratnya, kayak survival kit di tengah hutan belantara bisnis yang makin kompleks.

Kata Chairperson of ESG Task Force Kadin, Maria R Nindia Radyati, perusahaan yang masih ngeyel nggak mau implementasi ESG siap-siap aja gigit jari. Kenapa? Karena bakal rugi banyak, dari biaya operasional yang membengkak sampai daya saing yang makin kedodoran. Nggak mau, kan?
Terus, apa aja sih tantangan yang bakal dihadapi perusahaan yang masih cuek sama ESG? Nah, salah satunya adalah pajak karbon yang siap menghadang. Pajak ini bisa bikin biaya operasional makin tinggi. Belum lagi soal green procurement alias pengadaan barang dan jasa yang ramah lingkungan.
“Jadi green procurement ini kan nggak cuma buat perusahaan gede aja. Nanti UKM juga wajib melek,” ujar Maria saat acara malam Awarding SAFE 2025 di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (10/9). Artinya, semua level bisnis harus mulai mikirin dampak lingkungan dari setiap keputusan yang diambil.
Selain itu, sertifikasi keberlanjutan juga jadi batu sandungan kalau mau go internasional. Bayangin aja, tanpa sertifikasi kayak ISPO di Indonesia, RSPO di Eropa, atau IRMA buat sektor tambang, produk atau jasa kita bakal susah banget nembus pasar global. Konsumen sekarang udah pada pinter dan peduli lingkungan!
“Kalau nggak ada sertifikasi, konsumen nggak bakal beli. Kalau nggak ada pembeli, ya perusahaan bisa bangkrut,” tegas Maria. Ngeri juga ya?
Tapi tenang, nggak semua berita buruk, kok. Implementasi ESG juga buka banyak peluang baru! Salah satunya adalah akses ke sustainability linked loan (SLL). Pinjaman ini nawarin bunga yang lebih rendah kalau perusahaan berhasil mencapai target ESG yang udah ditetapkan. Lumayan banget, kan?
“Di Indonesia udah wajib itu. Apalagi nanti ada taksonomi versi kedua ya,” kata Maria, menambahkan kalau pemerintah juga makin serius mendorong penerapan ESG.
Nggak cuma itu, kinerja ESG yang oke juga bisa bikin perusahaan makin kinclong di mata investor. Penghargaan, kepercayaan investor yang meningkat, sampai daya tarik buat pemegang saham baru bisa jadi milik perusahaan yang peduli sama lingkungan dan sosial.
Makanya, Maria ngajak semua perusahaan buat mengubah mindset. ESG itu bukan cuma soal memenuhi standar kepatuhan atau biar nggak kena sanksi, tapi udah jadi strategi penting buat meraih peluang dan bikin perusahaan makin kuat di tengah persaingan bisnis yang ketat.
“Karena ada banyak insentif-insentif bagi perusahaan atau pelaku ekonomi,” pungkasnya. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai implementasi ESG sekarang! Jangan sampai ketinggalan kereta!








