Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Liputan

Lobi Korsel: Bebaskan Pegawai Hyundai yang Ditahan!

badge-check


					Lobi Korsel: Bebaskan Pegawai Hyundai yang Ditahan! Perbesar

Drama diplomasi antara Korea Selatan dan Amerika Serikat lagi panas-panasnya nih! Gara-garanya, Pemerintah Korea Selatan lagi gercep melobi AS buat ngebebasin warga mereka yang diciduk di pabrik Hyundai di Georgia. Untungnya, kabar baik datang: pejabat senior Kantor Kepresidenan Korsel bilang kalau negosiasi pembebasan mereka udah kelar.

Eits, jangan senang dulu. Kepala Staf Kepresidenan Korea Selatan, Kang Hoon-sik, dalam rapat tinggi antara Partai Demokrat dan pemerintah pada Minggu, 7 September 2025, membocorkan kalau “masih ada prosedur administratif yang tersisa.” Jadi, pesawat carteran dari Amerika baru bakal dikirim jemput setelah semua urusan birokrasi ini beres. Ini sih kayak nunggu antrean di kantor pelayanan publik, ya. Begitu kelar, baru deh warganya bisa pulang, kata Kang Hoon-sik, seperti dilansir kantor berita Korea Selatan Yonhap.

Awal mula keributan ini terjadi pada 4 September 2025, saat Badan Bea Cukai dan Imigrasi Amerika Serikat (ICE), bareng Investigasi Keamanan Dalam Negeri (HSI), dan Kepolisian Negara Bagian Georgia, ngelakuin razia besar-besaran. Targetnya? Kompleks pabrik kendaraan listrik Hyundai Motor Group Metaplant America (HMGMA) dan LG Energy Solution di Bryan County, Georgia. Hasilnya, 457 orang diciduk dalam operasi imigran ilegal ini, dan lebih dari 300 di antaranya adalah warga Korea Selatan.

Bukan cuma warga Korea, ada juga warga negara Indonesia (WNI) yang ikut kena jaring ICE. WNI berinisial CHT ini, menurut Kementerian Luar Negeri RI, lagi dalam kunjungan bisnis dan punya dokumen lengkap. Duh, kasihan banget, lagi apes ketangkep pas razia. Semoga cepet beres urusannya, ya!

Pihak ICE sendiri ngaku kalau yang ditangkep itu terbukti bekerja secara ilegal. Padahal, visa mereka cuma visa jangka pendek atau visa wisata yang jelas-jelas nggak boleh buat kerja. Para pejabat Amerika bahkan sesumbar kalau razia ini adalah “operasi penegakan hukum di satu lokasi terbesar dalam sejarah HSI.” Wah, sepertinya mereka nggak main-main nih.

Untuk urusan pembebasan warga Korea, Menteri Luar Negeri Korea Cho Hyun udah langsung ngebut buat ketemuan sama pejabat imigrasi Amerika. Nggak ketinggalan, Kim Ki-soo, pejabat senior dari LG Energy Solution, juga udah terbang ke Amerika buat ikut ngurusin. Sementara itu, pejabat konsuler Korea udah mulai nyamperin warga Korea yang ditahan di pusat penahanan imigrasi di Folkston sejak 6 September 2025, buat mastiin kondisi dan kesehatan mereka.

Kang Hoon-sik nggak cuma janji doang. Beliau berkomitmen bakal dorong perbaikan sistem visa bagi warga negara Korea yang niat kerja di Amerika. Harapannya, insiden kayak gini nggak bakal terulang lagi di masa depan. Kita lihat aja nanti, ya.

8.500 Pekerja

Ngomong-ngomong soal pabrik Hyundai ini, HMGMA mulai bangun pabrik kendaraan dan baterai listrik pertamanya di Amerika sejak Mei 2022. Mereka milih lahan super gede, sekitar 2.900 hektare di Bryan County, Georgia. Alasannya macem-macem, mulai dari kualitas hidup di sana yang oke, konektivitas regional yang kuat, logistik dan infrastruktur global yang mendukung, sampai program pelatihan tenaga kerja yang udah ada. Pabrik canggih pertama di Amerika ini sendiri udah mulai produksi sejak Oktober 2024.

Begitu beroperasi penuh, HMGMA diperkirakan bisa produksi 500.000 kendaraan dan bakal didukung sama 8.500 pekerja. Gila, banyak banget! Mereka juga punya rencana ekspansi yang bakal nyiptain 6.900 lapangan kerja tambahan. HMGMA mengklaim, “Hingga saat ini, perjanjian pembangunan ekonomi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Negara Bagian Georgia dengan total nilai lebih dari US$ 7,5 miliar.” Sebuah investasi yang nggak main-main.

Pernyataan Hyundai

Hyundai Motor Company sendiri ngaku udah tahu soal razia di pabriknya itu. Dalam pernyataan resmi yang dirilis 5 September 2025, mereka bilang, “Kami memantau situasi dengan seksama sambil berupaya memahami keadaan spesifiknya.” Tapi, ada tapinya nih. Hyundai langsung ngegas bilang, “Berdasarkan pemahaman kami saat ini, tidak satu pun dari mereka yang ditahan merupakan karyawan langsung Hyundai Motor Company.” Alias, mereka ini bukan pegawai tetap Hyundai.

Hyundai juga menegaskan komitmen mereka buat patuh sama semua hukum dan peraturan di setiap pasar tempat mereka beroperasi, termasuk soal verifikasi ketenagakerjaan dan undang-undang imigrasi. Mereka juga berharap semua mitra, pemasok, kontraktor, dan subkontraktor mereka punya komitmen yang sama. Intinya, “Ini bukan salah kami, ya!”

Keselamatan dan kesejahteraan setiap orang yang kerja di sana, baik yang dipekerjakan langsung atau yang kerja buat pemasok, itu prioritas utama Hyundai, katanya. Mereka serius banget soal tanggung jawab korporat dan insiden kayak gini jadi pengingat betapa pentingnya pengawasan ketat di seluruh rantai pasokan dan jaringan kontraktor. Hyundai juga lagi nge-review proses kerja mereka buat mastiin semua pihak yang terlibat dalam proyeknya patuh hukum, termasuk ngecek praktik ketenagakerjaan kontraktor dan subkontraktor. Sampai-sampai, Kepala Pejabat Pabrik Amerika Utara, Chris Susock, bakal pegang kendali penuh tata kelola seluruh situs raksasa di Georgia dan bakal ngelakuin investigasi buat mastiin semua pemasok dan subkontraktor patuh aturan. Wah, serius juga ya.

Buruh Anak

Tapi, ini bukan kali pertama Hyundai kena masalah soal pekerja ilegal. Sebelumnya, pada 30 Mei 2024, Departemen Tenaga Kerja AS bahkan ngeluarin gugatan hukum terhadap Hyundai Motor, salah satu pemasok utamanya, dan perusahaan penyedia tenaga kerja. Kasusnya? Potensi penggunaan pekerja anak secara ilegal di Alabama!

Para tergugatnya adalah Hyundai Motor Manufacturing Alabama LLC, pemasok suku cadang SMART Alabama LLC, dan agen penyedia tenaga kerja Best Practice Service LLC. Departemen Tenaga Kerja menuduh ketiga perusahaan ini secara bersama-sama memperkerjakan seorang anak berusia 13 tahun yang kerja sampai 60 jam per minggu di jalur perakitan pabrik SMART Alabama di Luverne. Anak ini kerjanya bikin komponen lembaran logam buat kendaraan Hyundai. Parahnya lagi, investigasi juga mengungkap kalau dua saudara kandung anak itu, yang berusia 12 dan 15 tahun, juga ikutan kerja di pabrik yang sama dan nggak sekolah. Miris banget, kan?

“Gugatan Departemen Tenaga Kerja bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban ketiga perusahaan dalam rantai pasokan,” kata Jaksa Penuntut Umum Seema Nanda dalam rilis Departemen Tenaga Kerja pada 20 Januari 2025. “Perusahaan tidak dapat lepas dari tanggung jawab dengan menyalahkan pemasok atau perusahaan penyedia tenaga kerja atas pelanggaran ketenagakerjaan anak, padahal mereka sendiri juga merupakan perusahaan.” Jadi, Hyundai nggak bisa cuci tangan gitu aja.

Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan yang Adil (FLSA) emang melarang perdagangan antarnegara bagian atas barang yang diproduksi dengan melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan Anak. Selama tahun fiskal 2023 aja, Departemen Tenaga Kerja udah nyelidikin 955 kasus pelanggaran ketenagakerjaan anak yang melibatkan 5.792 anak di seluruh Amerika, termasuk 502 anak yang dipaksa kerja di pekerjaan berbahaya. Pelanggaran-pelanggaran ini akhirnya bikin perusahaan-perusahaan itu kena denda lebih dari US$ 8 juta.

Juru bicara Hyundai, Michael Stewart, ngasih pernyataan ke Automotive Manufacturing Solutions kalau perusahaannya udah “bekerja selama berbulan-bulan untuk menyelidiki masalah ini secara menyeluruh dan mengambil langkah-langkah perbaikan segera dan ekstensif.” Stewart nambahin kalau Hyundai udah mewajibkan pemasoknya di Alabama buat ngelakuin audit ketenagakerjaan independen dan ngelaporin hasilnya ke Departemen Tenaga Kerja. Semoga aja masalah buruh anak ini nggak terulang lagi di pabrik mana pun, ya.

Pilihan Editor: Pidana Pertama Mantan Presiden Amerika Donald Trump

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan