
Waduh, Jawa Barat lagi-lagi jadi sorotan nih! Sepanjang Agustus 2025 kemarin, total ada 105 kali insiden gempa tektonik yang tercatat di wilayah ini. Biar nggak semuanya dirasakan langsung sama warga, jumlah segini tuh, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada lonjakan drastis banget dibanding bulan sebelumnya yang cuma 71 kali gempa. Fix, Bumi Pasundan lagi aktif-aktifnya nih!

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, sempat ngasih tahu kalau dari 105 kejadian itu, 96 di antaranya tergolong gempa dangkal, alias kedalamannya kurang dari 60 kilometer. Sisanya, ada 8 kali gempa kategori menengah (kedalaman 60-300 kilometer), plus satu gempa lagi yang pusatnya lebih dalam dari itu. Berbagai macam kedalaman, tapi intinya sama: Bumi berguncang!
“Soal magnitudo, gempa bumi terbesar yang tercatat adalah 4,9 dan terkecil 1,3,” kata Rahayu kepada Tempo pada Senin, 1 September 2025. Jadi, skalanya lumayan bervariasi, dari yang ‘hanya lewat’ sampai yang ‘lumayan bikin deg-degan’.
Menariknya, 54 dari 105 gempa di Jawa Barat selama Agustus 2025 itu berpusat di laut, sisanya di darat. Dan dari semua itu, menurut Rahayu, ada 12 kali lindu yang beneran dirasakan sama masyarakat. Ngeri-ngeri sedapnya, guncangan yang dirasakan warga ini dua kali lipat lebih besar dibanding bulan Juli. Kebayang kan gimana rasanya pas lagi santai tiba-tiba ada guncangan?
Gempa Dahsyat Karawang-Bekasi
Nah, dari sekian banyak gempa, ada satu insiden yang paling bikin heboh dan dicatat khusus sama BMKG Jawa Barat: gempa berkekuatan M4,7 di Selatan Karawang pada Sabtu malam, 20 Agustus 2025. Guncangan dari kedalaman 10 kilometer itu kerasa banget sampai ke berbagai kota, mulai dari Bekasi, Purwakarta, Cikarang, Depok, Bandung, Jakarta, Tangerang Selatan, Bekasi Timur, Tangerang, Pandeglang, Cianjur, Lebak, sampai Pelabuhan Ratu. Jauh banget ya jangkauannya?
Lindu M4,7 ini ternyata dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat (West Java Back-arc Thrust). Jangan salah, sesar ini sudah aktif lho sejak lima juta tahun lalu! Dan gempa terkini yang bikin kita deg-degan itu berasal dari bagian sesar yang dikenal sebagai Segmen Citarum.
Menurut Peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sonny Aribowo, sesar gempa ini memang sudah aktif dari zaman pliosen, sekitar 5 juta tahun yang lalu. Kata Sonny, saat dihubungi pada 25 Agustus 2025, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas geologi di wilayah ini memang sudah berlangsung lama.
Gempa yang sempat merusak ini ternyata jadi bagian dari rangkaian gempa susulan yang lumayan panjang. Sampai akhir Agustus, sudah ada 22 kali gempa yang menyusul guncangan M4,7 di Karawang. Tapi tenang, cuma empat gempa dari jumlah itu yang beneran dirasakan oleh masyarakat, jadi nggak semuanya bikin panik.
Selain itu, dua segmen aktif di sisi barat Sesar Lembang, yaitu Cimeta dan Cipogor, juga turut menyumbang gempa dengan kekuatan antara M1,7 hingga M2,3. Skala guncangan terbesarnya bahkan bisa menembus III MMI. Jadi, aktivitas kegempaan di Jawa Barat memang lagi kompleks banget, ya.
Faiz Zaki berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan Editor: Paradoks Ekspor Biomassa: Hutan Hilang, Emisi Karbon Tak Berkurang
Ringkasan
Pada Agustus 2025, Jawa Barat mencatat 105 kejadian gempa tektonik, meningkat signifikan dari 71 gempa pada bulan sebelumnya. Sebagian besar gempa tersebut tergolong dangkal, dengan magnitudo terbesar mencapai 4,9. Lebih dari separuh pusat gempa berada di laut dan 12 di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Gempa M4,7 di selatan Karawang pada 20 Agustus 2025 menjadi perhatian khusus karena dirasakan hingga berbagai kota di Jawa Barat dan Jakarta. Gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat, khususnya Segmen Citarum, yang aktif sejak jutaan tahun lalu. Setelah gempa utama, tercatat 22 gempa susulan, tetapi hanya sebagian kecil yang dirasakan warga.













