Kabar heboh seputar jam tangan Richard Mille milik Anggota DPR RI Ahmad Sahroni akhirnya menemui titik terang. Setelah sempat bikin geger seantero negeri, jam tangan mewah yang harganya bikin melongo—diperkirakan mencapai Rp 11,7 miliar—itu kabarnya sudah kembali ke pemiliknya. Yang bikin makin unik, sang “penjara” jam tangan tersebut ternyata masih anak-anak, dan pengembaliannya dilakukan melalui perantara orang tuanya kepada pengurus Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) setempat.
Dua warga yang tinggal di sekitar kediaman politikus Partai NasDem itu membenarkan insiden pengembalian ini. Mereka memastikan bahwa pelaku adalah anak dari warga lokal di Kelurahan Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bahkan, saat Tempo mencoba mengkonfirmasi alamat si pelaku, warga sempat membenarkannya, namun langsung melarang kunjungan dengan alasan yang cukup menyentuh hati.

Menurut warga, persoalan ini sudah dianggap selesai. Mereka berharap sang terduga pelaku bisa dibiarkan hidup tenang tanpa sorotan lebih jauh. “Kasihan juga orang tuanya,” tutur seorang warga yang memilih anonim saat ditemui Tempo pada Senin, 1 September 2025. Jam tangan Richard Mille tersebut, imbuh warga lainnya, telah diserahkan kepada RT atau RW di lingkungan tempat tinggal Sahroni. Menariknya, meski rumah pelaku dan Sahroni berdekatan, keduanya berada di RW yang berbeda. Momen pengembalian jam tangan ini bahkan sempat viral di media sosial.
Meski begitu, upaya Tempo untuk mewawancarai ketua RT dan RW setempat menemui jalan buntu. Warga sekitar memilih bungkam, hanya memberikan jawaban singkat bahwa mereka tidak akan memberikan keterangan apa pun demi menjaga “kenyamanan bersama.” “Mohon dimaklumi,” ujar salah seorang warga yang berjaga di sekitar lorong.
Sebagai kilas balik, peristiwa penjarahan rumah Ahmad Sahroni terjadi pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Kala itu, massa mendatangi kediaman Sahroni dan melampiaskan kemarahan mereka dengan merusak barang berharga, termasuk sejumlah kendaraan yang ada di sana. Tak hanya itu, berbagai barang mewah pun ikut raib, mulai dari peralatan elektronik, meja, perabotan rumah tangga, brankas berisi uang dolar Singapura, tas mewah, hingga patung tokoh kartun Iron Man. Beruntungnya, Sahroni dan keluarganya tidak berada di tempat saat insiden itu terjadi.
Pasca-kejadian, kawasan sekitar rumah Sahroni dijaga ketat oleh warga. Spanduk putih bertuliskan merah kini terpasang di sejumlah gang yang mengarah ke rumahnya, bertuliskan “Dilarang masuk kecuali warga RT 06, RT, 08.” Tempo sendiri mengunjungi lokasi tersebut sekitar pukul 14.30 WIB pada Senin, 1 September 2025.
Sementara itu, pihak Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara mengkonfirmasi bahwa mereka belum berhasil menangkap satu pun terduga pelaku penjarahan rumah Sahroni. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan mendalam. “Hingga saat ini belum ada yang diamankan,” jelas Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Onkoseno Grandiarso Sukahar, kepada Tempo pada Senin, 1 September 2025.
Peristiwa penjarahan ini diduga kuat dipicu oleh kemarahan massa terhadap Ahmad Sahroni setelah ia merespon tuntutan pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Saat itu, ia menyebut orang yang menyerukan tuntutan tersebut sebagai “orang paling tolol di dunia.” Tuntutan pembubaran DPR sendiri mencuat setelah parlemen mendapat tambahan tunjangan rumah, kenaikan tunjangan beras, dan tunjangan bensin, yang jika ditotal bisa membuat setiap anggota DPR RI mengantongi pendapatan sebesar Rp 100 juta per bulan. Sebuah angka yang bikin publik geleng-geleng.
Buntut dari kontroversi ini, Partai NasDem, partai yang menaungi Sahroni, tak tinggal diam. Mereka mencopot pria yang kerap dijuluki “Crazy Rich Tanjung Priok” itu dari posisi Wakil Ketua Komisi III DPR dan menggesernya ke Komisi I. Tak berhenti di situ, belakangan NasDem bahkan menyatakan menonaktifkan Sahroni dari keanggotaan DPR. Drama politik dan sosial yang cukup rumit, bukan?
Ringkasan
Jam tangan Richard Mille milik Ahmad Sahroni yang sempat hilang akibat penjarahan telah dikembalikan. Pengembalian dilakukan melalui orang tua pelaku, yang ternyata adalah anak-anak warga setempat di Kelurahan Bawang, Tanjung Priok. Warga sekitar berharap kasus ini tidak diperpanjang demi melindungi keluarga pelaku.
Penjarahan rumah Sahroni diduga dipicu oleh kemarahan massa atas komentarnya terkait tuntutan pembubaran DPR. Akibatnya, Sahroni dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi III dan dinonaktifkan dari keanggotaan DPR oleh Partai NasDem. Polisi hingga kini belum berhasil menangkap pelaku penjarahan, sementara kasus masih dalam penyelidikan.













