
JAKARTA, KOMPAS.com – Rupiah sempat ‘oleng’ pekan lalu, bikin banyak yang deg-degan. Tapi tenang saja, Bank Indonesia (BI) gercep pasang badan! Bank sentral ini memastikan bakal terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap di jalurnya, terutama setelah sempat terhuyung-huyung gara-gara demo yang meluas.

Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, menegaskan bahwa BI nggak bakal tinggal diam. “Merespons kondisi terkini, BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kecukupan likuiditas rupiah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (1/9/2025).
Baca juga: Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Dorong Rupiah Menguat
Erwin menambahkan, BI akan pakai berbagai “jurus” pasar demi menstabilkan rupiah. Nggak cuma ngomong doang, tapi langsung action di lapangan! Beberapa langkah jitu yang disiapkan BI antara lain intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, dan juga intervensi di pasar domestik lewat transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), sampai mengutak-atik Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Eits, nggak cuma itu. BI juga siap sedia menjaga likuiditas rupiah. Caranya? Buka akses likuiditas buat perbankan lewat transaksi repo, transaksi FX swap, pembelian SBN di pasar sekunder, plus menyediakan lending atau financing facility. Pokoknya, semua jurus dipakai biar rupiah tetap stabil dan likuiditas aman terkendali.
Baca juga: IHSG Ditutup Turun 1,21 Persen, Rupiah Menguat
Rupiah Menguat Hari Ini: Bangkit dari Keterpurukan?
Nah, setelah drama pekan lalu, rupiah akhirnya pamer taring lagi! Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah hari ini ditutup perkasa di Rp 16.418,5 per dollar AS. Kenaikan ini nggak main-main, lho, sekitar 0,49 persen atau 81,00 poin, jauh lebih baik dari penutupan sebelumnya yang bertengger di Rp 16.499,5 per dollar AS.
Biar makin jelas, kita intip kilas balik singkatnya. Coba bayangkan, Jumat (29/8/2025) kemarin, rupiah di pasar spot masih lesu darah, melemah 0,90 persen atau 147,5 poin ke Rp 16.499,5 per dollar AS. Bahkan, di hari demonstrasi pecah, Kamis (28/8/2025), rupiah juga ikut drop ke level yang sama, turun 0,90 persen atau 147,5 poin dari Rp 16.352,5 per dollar AS. Tapi setidaknya, Rabu (27/8/2025) sempat bikin senyum tipis karena menguat 0,09 persen atau 15,50 poin ke Rp 16.352,5 per dollar AS. Rollercoaster banget, kan?
Baca juga: Nilai Tukar Menguat, Simak Kurs Rupiah di 5 Bank Besar Indonesia
Lalu, apa sih yang bikin rupiah jadi semangat lagi? Ternyata, kuncinya ada di Amerika Serikat, atau lebih tepatnya, di tangan The Federal Reserve (The Fed)! Peluang pemangkasan suku bunga acuan The Fed di bulan September 2025 ini jadi semacam vitamin buat rupiah. Pasar bahkan sudah yakin banget, potensi potong suku bunga itu mencapai hampir 90 persen!
Ibrahim Assuabi, seorang analis mata uang yang juga Direktur Laba Forexindo Berjangka, ikut menyoroti fenomena ini. Kata dia, “Investor meningkatkan taruhan mereka pada penurunan suku bunga pada bulan September setelah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi AS terbaru sebagian besar sesuai dengan perkiraan,” seperti dikutip dari Antara, Senin. Jadi, jelas sudah, sentimen dari Paman Sam ini punya pengaruh besar terhadap gerak-gerik rupiah.
Baca juga: IHSG Awal Sesi Anjlok 3,30 Persen, Nilai Tukar Rupiah Menguat
Data-data dari AS memang bikin deg-degan, tapi kali ini justru membawa kabar baik. Inflasi inti AS, yang diukur dengan indeks Personal Consumption Expenditure (PCE), memang naik 2,9 persen secara tahunan di Juli 2025 (tertinggi sejak Februari 2025). Secara bulanan, inflasi inti juga naik 0,3 persen dari Juni 2025. Tapi, ini dia poin pentingnya: angka tersebut justru lebih rendah dari perkiraan awal! Alhasil, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bulan ini makin kuat, deh.
Investor juga lagi mantengin banget laporan penggajian non pertanian alias nonfarm payrolls (NFP) AS. Data ini krusial banget buat The Fed. Kalau data ketenagakerjaan AS ternyata melemah, wah, lampu hijau buat pemangkasan suku bunga makin terang benderang!
Belum lagi drama politik di Negeri Paman Sam. Presiden AS Donald Trump dikabarkan berusaha nyopot Anggota Dewan Gubernur The Fed, Lisa Cook. Alasannya, tuduhan kasus penipuan hipotek di tahun 2021. Tapi, Cook-nya nggak mau kalah. “Cook telah menolak wewenang Trump untuk memberhentikannya dan mengajukan gugatan hukum,” kata Ibrahim. Ketegangan internal ini tentu ikut memanaskan suasana pasar global.
Baca juga: Demo Berpotensi Berlanjut, Rupiah Diprediksi Melemah 150 Basis Poin Pada Senin 1 September
Nggak cuma faktor global, rupiah juga dapat suntikan semangat dari kondisi dalam negeri, lho! Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia versi S&P Global sukses melesat ke angka 51,5 di Agustus 2025, jauh lebih tinggi dari Juli 2025 yang cuma 49,2. Ini pencapaian tertinggi sejak Maret 2025, dan yang bikin makin bangga, ini adalah ekspansi pertama dalam lima bulan terakhir! Kata Ibrahim, ini didorong oleh rebound output dan pesanan baru setelah empat bulan sebelumnya loyo.
Plus, ada kabar gembira dari Badan Pusat Statistik (BPS). Neraca perdagangan Indonesia di Juli 2025 tercatat surplus menganga sebesar 4,17 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 68,8 triliun! Angka ini bahkan lebih gede dari surplus Juni 2025 yang ‘cuma’ 4,11 miliar dollar AS (Rp 67,8 triliun). “Penopang surplus pada Juli ini adalah ekspor CPO (Crude Palm Oil) dan batu bara,” jelas Ibrahim. Jadi, ekonomi kita juga ikut unjuk gigi, menjaga rupiah tetap stabil.
Baca juga: IHSG Ditutup Turun 1,53 Persen di Akhir Pekan, Kurs Rupiah ke Level 16.499,5 per Dollar AS
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah sempat tertekan akibat demonstrasi. BI akan melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, BI juga akan menjaga likuiditas rupiah melalui berbagai fasilitas seperti repo dan FX swap.
Setelah sempat melemah, rupiah menunjukkan penguatan dan ditutup pada Rp 16.418,5 per dollar AS. Penguatan ini didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan data ekonomi Indonesia yang positif, seperti peningkatan PMI manufaktur dan surplus neraca perdagangan. Kondisi ini memberikan sentimen positif bagi rupiah.








