Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Liputan

Tragedi Demonstrasi Agustus 2025: Mengenang 7 Korban Meninggal

badge-check


					Tragedi Demonstrasi Agustus 2025: Mengenang 7 Korban Meninggal Perbesar

Gelombang demonstrasi yang mengguncang berbagai kota di penghujung Agustus 2025 lalu menyisakan luka yang amat dalam. Setidaknya tujuh nyawa melayang di tengah bentrok berdarah antara polisi dan massa aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan. Beberapa kasus bikin kita mengelus dada, seperti di Jakarta, di mana kematian terjadi karena kekerasan aparat. Ironisnya, di tempat lain, ada juga korban jiwa setelah massa malah membakar gedung.

Jadi, siapa saja sih para korban yang harus meregang nyawa saat gelombang demonstrasi dan kericuhan pada 28-31 Agustus 2025 itu? Ini dia data lengkapnya, lokasi, dan cerita pilu di baliknya.

Makassar

Kota Angin Mamiri jadi saksi bisu empat nyawa yang melayang dalam aksi unjuk rasa Kamis malam, 28 Agustus 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar melaporkan, tiga korban tewas terbakar di kantor DPRD Kota Makassar, sementara satu lainnya justru tewas dikeroyok massa di Jalan Urip Sumoharjo.

Ketiga korban yang meninggal dalam kebakaran gedung DPRD adalah Sarinawati, Syaiful Akbar, dan Muhammad Akbar Basri. Sarinawati, perempuan berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai staf Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Makassar, ditemukan tak bernyawa di lantai tiga kantornya. Ia sempat berusaha menyelamatkan diri dari amukan massa dengan bersembunyi. Sayang, takdir berkata lain, dia tak berhasil keluar saat api melahap bangunan.

Nasib serupa menimpa Akbar Basri, laki-laki 28 tahun, seorang fotografer humas DPRD Kota Makassar yang akrab disapa Abay. Ia juga ditemukan tim SAR hangus terbakar di lantai tiga gedung DPRD. Diduga, Abay bersembunyi bersama rekannya, namun nahas, mereka terjebak saat api membesar dan tak bisa keluar.

Sementara itu, Syaiful Akbar, laki-laki 43 tahun, meninggal dunia setelah melompat dari lantai tiga gedung DPRD dalam upaya menyelamatkan diri dari kobaran api. Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Ujung Tanah itu akhirnya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Grestelina.

Tragisnya, Rusdamdiansyah, laki-laki 21 tahun, justru tewas akibat dikeroyok massa di Jalan Urip Sumoharjo, persis di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar. Massa menuduhnya sebagai intel aparat. Rusdamdiansyah sempat dilarikan ke RSUP OJK Kemenkes RI di kawasan CPI, namun nyawanya sudah tak tertolong.

Yogyakarta

Duka juga menyelimuti Kota Pelajar. Demonstrasi di Yogyakarta berujung pada kematian Rheza Sendy Pratama, mahasiswa semester V Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta. Rheza meninggal dalam kericuhan di kawasan Ring Road Utara, depan Markas Polda Yogyakarta, pada Ahad pagi, 31 Agustus 2025.

Isak tangis Yoyon Surono, ayah Rheza, pecah saat memandikan jenazah putranya. Ia terkejut melihat tubuh Rheza penuh luka mengerikan. “Leher belakang seperti patah, pelipis bocor, banyak bekas jejak sepatu PDL di dada dan perut, dan memar sabetan di badannya,” tutur Yoyon dengan nada pilu. Rheza yang semula berpamitan hanya untuk ngopi bersama teman, belakangan diduga ikut dalam aksi unjuk rasa.

Rheza dibawa ke RSUP Dr Sardjito oleh unit kesehatan kepolisian dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 07.00 WIB. Polda Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan, kericuhan terjadi pada Sabtu malam, 30 Agustus 2025, hingga Ahad pagi, 31 Agustus. Sekitar 500 orang dilaporkan menyerang Markas Komando Polda Yogyakarta dengan melempar batu, petasan, bom molotov, serta menarik kawat duri pagar pengaman. Polisi bersama TNI akhirnya membubarkan massa sekitar pukul 06.00 WIB karena aksi itu dinilai meresahkan dan menutup akses jalan ring road.

Menanggapi insiden memilukan ini, Kapolda Yogyakarta Inspektur Jenderal Anggoro Sukartono menyatakan kesiapannya untuk menggelar penyelidikan hingga penyidikan terkait kematian Rheza. “Apabila keluarga akan mempertanyakan sampai kepada proses hukum dari meninggalnya, kami siapkan semua proses itu, dari penyelidikan hingga penyidikan,” kata Anggoro seperti dikutip Antara.

Solo

Di Kota Solo, aksi demonstrasi berujung kerusuhan pada Jumat malam, 29 Agustus 2025, turut merenggut nyawa Sumari, seorang tukang becak berusia 60 tahun. Kakek asal Pacitan, Jawa Timur, itu sehari-hari mangkal di kawasan Pasar Gede.

Dikutip dari Radar Solo, Sumari ditemukan dalam kondisi lemas di dekat gedung parkir Ketandan, saat bentrok massa dan polisi pecah di Bundaran Gladak. “Korban sempat duduk, lalu muntah sambil memegangi dada. Kami bersama warga membawanya ke RSUD Dr Moewardi, tapi nyawanya tidak tertolong,” ujar Aipda Rudy Ardhiawan, Bhabinkamtibmas Sudiroprajan. Keluarga Sumari memang mengonfirmasi bahwa almarhum memiliki riwayat penyakit jantung dan asma. Namun, dugaan kuat warga sekitar, paparan gas air mata yang terbawa angin hingga Pasar Gede turut memperburuk kondisi kesehatannya. Beberapa video yang beredar memperlihatkan warga bahu-membahu mengevakuasi tubuh Sumari menggunakan becak motor.

Jakarta

Ibu kota juga tak luput dari tragedi. Demonstrasi di Jakarta berujung pada kematian Affan Kurniawan di tangan aparat. Affan adalah pengemudi ojek online yang tewas dilindas kendaraan taktis Brigadir Mobil Polda Metro Jaya di kawasan Rusun Bendungan Hilir II, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.

Pria 21 tahun itu terjatuh ketika sedang berlari menghindari mobil rantis Brimob yang melaju kencang di tengah kerumunan pengunjuk rasa. “Posisinya di tengah jalan, HP-nya jatuh. Dia mau ambil HP malah keserimpet, itu mobil datang langsung blas (dilindas),” kata Erna dari komunitas ojek online Unit Respons Cepat Bergerak di rumah duka, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 29 Agustus 2025.

Affan sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. “Sampai di IGD masih ada. Lima menit kemudian dicek lagi nadinya sudah enggak ada,” tambah Erna. Affan dinyatakan meninggal sekitar pukul 19.50 WIB di RSCM. Momen tragis Affan dilindas kendaraan polisi ini terekam jelas dalam video warga, dan kematiannya lantas memicu gelombang protes yang lebih besar.

Kontributor: Pribadi Wicaksono dan Intan Setiawanti.

Pilihan Editor:

Gula-gula Peredam Kemarahan Massa

Ringkasan

Artikel ini membahas tragedi demonstrasi yang terjadi pada Agustus 2025, yang menyebabkan meninggalnya tujuh orang di berbagai kota. Korban jiwa terjadi di Makassar, Yogyakarta, Solo, dan Jakarta, dengan penyebab kematian yang bervariasi, termasuk terbakar, dikeroyok massa, kericuhan, dan dilindas kendaraan taktis polisi.

Di Makassar, tiga orang tewas akibat kebakaran di kantor DPRD dan satu orang dikeroyok massa. Di Yogyakarta, seorang mahasiswa meninggal dalam kericuhan di depan Markas Polda. Di Solo, seorang tukang becak meninggal diduga akibat paparan gas air mata. Di Jakarta, seorang pengemudi ojek online tewas dilindas kendaraan taktis polisi saat demonstrasi.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan