Menu

Mode Gelap
JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Asah Kreativitas Lewat Teknik Mewarnai Batik Persaingan Makin Ketat, SD Swasta Sidoarjo Siapkan Strategi Penerimaan Murid Baru Tebar Kurma dan Imsakiyah, Yayasan Bina Insan Muslim Gaungkan Syiar Ramadan

Tulisan

Catatan Perjalanan: Belajar Kemandirian dari Pondok Modern Gontor

badge-check


					Kunjungan JSIT Jawa Timur di Ponpes Gontor - Klikmojok.com Perbesar

Kunjungan JSIT Jawa Timur di Ponpes Gontor - Klikmojok.com

Pagi itu (16/10), udara Ponorogo masih terasa sejuk ketika rombongan kami—pengurus yayasan dari JSIT Indonesia Jatim Bidang Kelembagaan serta beberapa perwakilan orang tua—berkumpul di MI Qurota Ayun. Kami bersiap mengikuti study tiru ke Pondok Modern Darussalam Gontor, salah satu pesantren yang dikenal kuat dalam manajemen pendidikan dan kemandirian ekonomi.

Sesampainya di Gontor, acara seremonial dimulai pukul 09.00. Ustad Hafidz mewakili Pondok Gontor memberi sambutan hangat, disusul sambutan dari JSIT Indonesia oleh Ustaz Edris Efendi. Suasana pertemuan berlangsung akrab, namun tetap penuh wibawa—seperti ciri khas Gontor yang selama ini kami dengar.

Sebelum memasuki sesi studi lapangan, Ustad Hafidz memberikan arahan mengenai bagaimana Gontor membangun kemandirian ekonomi. Ia menjelaskan dengan lugas bahwa pondok sebagai lembaga swasta harus berdiri tanpa ketergantungan pada pemerintah. Karena itu, pondasi finansial wajib kuat dan dikelola dengan sistem yang disiplin.

Menurutnya, ada tiga alasan utama mengapa kemandirian ekonomi menjadi prinsip dasar di Gontor:

  1. Sebagai lembaga swasta, pondok harus mampu bertahan tanpa sokongan pemerintah.
  2. Santri dibiasakan belajar mengelola usaha, sebab biaya pendidikan (SPP) hanya diperuntukkan bagi kebutuhan santri, sementara kesejahteraan pengajar disokong dari unit usaha pondok.
  3. Agar kualitas pendidikan tidak dikendalikan oleh sponsor atau bantuan pihak luar.

Ia lalu menjelaskan falsafah ekonomi pesantren yang dipegang Gontor. Ekonomi ditempatkan sebagai bagian dari ibadah, dijalankan dalam semangat kebersamaan, dan tidak sekadar mengejar profit. Barokah serta keberlangsungan menjadi orientasi utamanya. Tak heran jika Gontor kini memiliki sekitar 60 unit usaha, dikelola bersama oleh ustaz dan santri.

Menariknya, mereka menerapkan konsep ekonomi proteksi, yaitu menjaga pondok dari pengaruh luar, mengandalkan sumber dana internal untuk pengasuh dan guru, serta memastikan setiap warga pondok merasa terlibat dan memiliki. Bahkan, sebagian besar kebutuhan mereka produksi sendiri untuk membatasi ketergantungan terhadap barang luar.

Unit usaha ini memiliki peran penting: menghidupi pondok dan guru, menanamkan jiwa enterpreneur, membangun rasa tanggung jawab melalui praktik nyata, serta menjadi wahana pendidikan yang terstruktur. Semua unit diawasi, dievaluasi, dan dijalankan dengan pelibatan santri secara total.

Kunjungan JSIT Jawa Timur di Ponpes Gontor – Klikmojok.com

Saat mendengar penjelasan itu, saya bisa merasakan bahwa kekuatan Gontor bukan hanya konsepnya, melainkan keikhlasan, keteladanan, disiplin sistem, dan integrasi nilai dalam setiap produktivitas. Mereka tidak sekadar mengajarkan teori, tetapi membangun budaya yang membentuk karakter.

Ustaz Hafidz menutup dengan sebuah prinsip yang melekat kuat di benak kami:

“Mandiri bukan berarti sendiri, tapi berdiri di atas kaki sendiri.”

Kemandirian, bagi Gontor, adalah bagian dari jihad pendidikan—membangun usaha pondok, menguatkan SDM, beradaptasi dengan digitalisasi, serta memperkuat branding demi keberlanjutan lembaga. Sebuah pelajaran penting bagi kami yang sedang berjuang memperbaiki manajemen pendidikan formal di daerah masing-masing.

Penulis: Patma Hadi Santoso, S.Si
Kabid Pemberdayaan dan Ortu JSIT Jatim

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Era Konten, Humas Bukan Sekadar Tukang Posting

12 Februari 2026 - 15:40 WIB

Pilkada: Langsung vs Perwakilan

14 Januari 2026 - 10:40 WIB

Regenerasi Kepemimpinan Sekolah sebagai Keniscayaan

14 Januari 2026 - 10:34 WIB

Urgensi Periodisasi Kepala Sekolah

14 Januari 2026 - 10:19 WIB

Ketika Kebaikan Dikhianati: Kisah Ibnu Humair dan Ular Licik

29 Desember 2025 - 17:18 WIB

Trending di Tulisan