SURABAYA – Pendidikan karakter kini menjadi perhatian utama di dunia pendidikan, termasuk di lingkungan Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya. Di tengah perkembangan era digital dan tantangan moral yang semakin kompleks, sekolah menilai kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk membentuk generasi masa depan yang unggul.
Melalui penguatan budaya sekolah dan kolaborasi bersama orang tua, SMP PGRI 6 Surabaya terus berupaya membangun karakter siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang jujur, disiplin, tangguh, bertanggung jawab, serta memiliki empati tinggi.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Bulak Rukem III No 7-9, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir tersebut menilai pendidikan karakter harus dibangun bersama antara lingkungan keluarga dan sekolah.
Dalam penerapannya, sekolah terus mengajak siswa untuk membiasakan budaya positif dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pihak sekolah, orang tua merupakan “kurikulum tersembunyi” pertama bagi anak sebelum mereka mengenal dunia pendidikan formal.
Beberapa peran penting orang tua dalam pendidikan karakter di antaranya melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, pemberian kasih sayang dan rasa aman, serta pembiasaan disiplin di rumah.
“Anak adalah peniru ulung. Ketika orang tua ingin anaknya jujur dan disiplin, maka orang tua juga harus menunjukkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” tulis pihak sekolah dalam pemaparannya.
Selain lingkungan keluarga, budaya sekolah juga dinilai memiliki peran besar dalam membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan melalui teori di kelas, tetapi harus menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah.
Budaya sekolah tersebut diwujudkan melalui suasana belajar yang positif, interaksi yang santun, kedisiplinan, pembiasaan tanggung jawab, hingga lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa.
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya, H. Banu Atmoko, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pembentukan karakter anak tidak bisa dilakukan secara parsial atau dibebankan kepada satu pihak saja.
“Orang tua dan sekolah ibarat dua sayap burung. Jika salah satunya tidak berjalan dengan baik, maka anak tidak akan mampu terbang tinggi mencapai potensi terbaiknya,” ujarnya.
Menurutnya, ketika rumah mampu memberikan fondasi kasih sayang yang kuat dan sekolah menghadirkan budaya belajar yang sehat, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral.

H. Banu Atmoko yang juga Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara dan alumni S2 Manajemen Pendidikan UNESA berharap sinergi antara keluarga dan sekolah dapat terus diperkuat demi menyiapkan generasi emas Indonesia di masa depan.
“Karakter yang baik tidak lahir secara instan. Dibutuhkan keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan yang mendukung agar anak tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan berakhlak,” pungkasnya.













